Utama
Perintis
169kaki Buddha Dordenma
Pensponsoran
Kontak
Sepintas Bhutan
Pengajaran
MCT
SEPINTAS BHUTAN
______________________________________________
 
Inggris Mandarin Indonesia

Mengenal spiritualitas suatu kerajaan, kaya akan warisan Buddhis dan merupakan intisari dari tradisi Bhutan

Kerajaan Bhutan terletak tinggi di dalam pegunungan Himalaya. Terselubungi dengan 70% hutan, negara ini juga dikenal sebagai "Daratan Obat Suci".
Kerajaan Buddhis kecil dengan populasi 700,000 orang ini memiliki kebudayaan yang kaya dalam Buddhisme, yang berakar sejak kejayaan dari Shabdrung Ngawang Namgyel (1594-1651).
The Shabdrung merupakan reinkarnasi dari Guru Padmasambhava. Pada 1616, beliau memperkenalkan sistem ganda pemerintahan keagamaan dan duniawi yang sedang berlaku di Bhutan. Memanfaatkan sisa hidupnya, beliau melakukan pengasingan diri di Punakha Dzong dan mengabdikan diri membuat 100,000 tsatsas (stupa mini tanah liat). Lukisan besar Buddhis, yakni karya Shabdrung, terpampang di sekujur dinding ruang keramat Punakha Dzong. Keagungan beliau oleh penduduk tercerminkan melalui keberadaan gambarnya (thangkas) di setiap tempat, di vihara, biara dan rumah penduduk.

 

Upacara Keagamaan Buddhis
Upacara Buddhis biasanya diselenggarakan di lapangan terbuka untuk menampung banyak orang dari 10,000 hingga lebih.

 

Bhiksuni berjalan kaki
Banyak biara Bhiksu/ni terletak tinggi terpencil di pegunungan. Kadang, para Bhiksu/ni harus berjalan kaki menuju kota demi kebutuhan.

 

Stupa-stupa dan bendera sembahyang
Stupa dan bendera sembahyang terlihat di seluruh pelosok negara.

Punakha Dzong
Punakha Dzong adalah tempat tinggal musim dingin dari His Holiness, the 70th Jekhenpo Bhutan.

 

Sembahyang rutin
Melafalkan doa dengan tasbih dan memutarkan roda doa merupakan kebiasaan penduduk di sana.

Siswa
Menggambar gambar Buddhis dan membuat rupang.

 

Guru Padmasambhava terlukis di sisi karang terjal
Gambar-gambar Buddha yang terlukis atau terukir pada bebatuan alam merupakan pemandangan lumrah di sini.

 
Jampa Lhakang (Bumthang) diyakini telah didirikan pada tahun 659 setelah masehi bersamaan dengan Kyichu Lhakang (Paro) di mana mereka merupakan vihara tertua di Bhutan. Kedua vihara ini adalah salah satu di antara sekian banyak vihara lain yang didirikan pada hari yang sama oleh Raja Songtsen Gampo, dengan tujuan menaklukkan seekor siluman wanita yang berbaringkan punggungnya di sekujur wilayah Himalaya. Jampa Lhakang mengunci lutut kirinya. Kyichu Lhakang mengunci jari kaki kirinya.
Kyichu Lhakang (Paro), vihara tertua di Bhutan yang didirikan tahun 638 setelah masehi oleh Raja Songtsen Gampo. Pada tahun 1968, Yang Mulia Ashi Kesang, Ibu Ratu Bhutan mengupayakan agar vihara kedua didirikan di samping vihara pertama dengan gaya bangunan yang sama.
 
Museum Nasional Paro berlokasikan di atas puncak bukit, di atas Paro Dzong (Rinpung Dzong). Di dalam museum ini tema utamanya berupa sejarah Buddhisme dan penyebarannya.
Paro Dzong awalnya disebut sebagai "Rinchen Pung Dzong" yang berarti "kubu di atas gundukan permata". Namanya lalu disingkat menjadi Rinpung Dzong. Pada tahun 1644, Shabdrung memberikan perintah untuk membangun Dzong di atas pondasi vihara yang didirikan sebelumnya oleh Guru Rinpoche.
 
Perkenalan Bhutan
 

Kerajaan Bhutan adalah suatu tempat keramat suci (Shangri-La) yang terletak tinggi di atas pegunungan Himalaya. Bendera doa, stupa, vihara dan biara dapat ditemukan di mana-mana. Penduduk di sana sangat beriman dan di setiap rumah tangga terdapat suatu tempat suci. Dari dulu Bhutan sudah sangat kental tradisi Buddhisnya. Ia adalah negara Buddhis Mahayana Vajrayana yang merangkul dan menghormati semua tradisi Buddhis. Ajaran Buddha Shakyamuni dapat dikelompokkan dalam: silsilah Manjushri--Ajaran tentang kebijaksanaan pandangan-mendalam; silsilah Maitreya--Ajaran tentang filosofi dan shamatha; dan silsilah Tilopa--Ajaran tentang konsentrasi, juga dikenal sebagai samadhi tantra. Ajaran Vajrayana yang awalnya diajarkan Buddha Vajradhara adalah kesatuan dari ketiga silsilah ini. Dalam konteks ajaran Vajrayana, Buddha Vajradhara sekaligus sedang membabarkan Dharma dalam tiga dimensi waktu dari masa lampau, sekarang dan akan datang. Guru Padmasambhava, secara umum dianggap sebagai Buddha kedua, muncul di Bhutan 1200 tahun yang lalu dan menyebarkan Ajaran Buddha, terutama Ajaran Tantra, di seluruh pelosok Bhutan.

Pengajaran-Nya diteruskan kepada Tsangpa Jare dan kemudian kepada Pema Karpo, seorang cendekiawan Drukpa. Tsangpa Jare membentuk silsilah Drukpa Kagyud 843 tahun yang lalu. Ketika beliau mendirikan sebuah biara besar, sembilan naga muncul dari bumi, mengelilingi sekujur tubuh-Nya dan menjulang di atas kepala-Nya. "Druk" artinya naga dalam bahasa Bhutan, oleh karena itu, silsilah tersebut kemudian dinamakan Drukpa Kagyud.

Selanjutnya, 477 tahun yang lalu, Shabdrung Ngawang Namgyel, pemimpin Buddhis tertinggi, menjadikan Bhutan sebagai negara serikat Buddhis yang mandiri. Shabdrung berarti "bernamaskara di depan kaki". Shabdrung adalah reinkarnasi dari Pema Karpo, yang diri-Nya sendiri merupakan reinkarnasi dari Guru Padmasambhava, Chenrezig dan Amitabha (tubuh, ucapan, dan pikiran). Beliau secara langsung menerima Ajaran dari ketiga kaya tertinggi ini. "Pema" artinya "teratai" dan merujuk kepada Guru Padmasambhava. "Karpo" artinya "putih" dan merujuk kepada Chenrezig. Karena itu, silsilah non-dual dari Nyongma (aliran merah) dan Drukpa Kagyud (aliran putih) pun terbentuk. Demi menyempurnakan pertanda kebajikan, "Kagyud" selanjutnya diganti menjadi "Kargyud", mengemban nama pendirinya, Pema Karpo.

Kerajaan tersebut diberi nama resmi sebagai Palden Drukpa Chogle Namgyel, artinya "pemegang silsilah naga jaya nan gung dari sepuluh penjuru". Makna dari "Palden" adalah "agung"; "Drukpa" adalah "pemegang silsilah naga"; "Chogle" adalah "sepuluh penjuru" dan "Namgyel" adalah "selalu berjaya".

Tokoh-tokoh utama negara disebut sebagai para drukpa. Agama resmi negara dinamakan Palden Drukpa Kargyud, artinya "silsilah naga agung". Bhiksu-bhiksuni Bhutan, para pelatih yoga pria maupun wanita, dan umat awam merupakan pemegang silsilah ini. Kehangatan dan berkah dari Ajaran masih dirasakan semua orang karena silsilah ini masih belum lama diwariskan.

Negara Bhutan 70% merupakan hutan dan penduduknya bermatapencarian melalui usaha pertanian. Untuk melestarikan agama tradisi dan kebudayaan, negara ini telah menutup diri cukup lama. Pada Juli 2002, Menjong Chothun Tshogpa (MCT) suatu organisasi non-profit dibentuk untuk melestarikan vihara, biara dan lingkungan alam; memastikan kebutuhan para bhiksu-bhiksuni terurus; dan menjamin kesinambungan dari Tradisi Buddha Dharma suci demi kebaikan para generasi mendatang. His Eminence Trizin Tsering Rinpoche ditunjuk sebagai ketua MCT oleh His Holiness Trulku Jigme Choda Rinpoche ke-70 Je Khenpo Tertinggi dari Bhutan pada Juni 2003.

 

Peta Bhutan

 

Foto-foto Bhutan
Atas kesediaan Morgan Ommer

Klik setiap foto di bawah menuju lebih banyak gambar.

 

______________________________________________________________________
Kembali Lanjut