Kerajaan Bhutan adalah suatu tempat keramat suci (Shangri-La) yang terletak tinggi di atas pegunungan Himalaya. Bendera doa, stupa, vihara dan biara dapat ditemukan di mana-mana. Penduduk di sana sangat beriman dan di setiap rumah tangga terdapat suatu tempat suci. Dari dulu Bhutan sudah sangat kental tradisi Buddhisnya. Ia adalah negara Buddhis Mahayana Vajrayana yang merangkul dan menghormati semua tradisi Buddhis. Ajaran Buddha Shakyamuni dapat dikelompokkan dalam: silsilah Manjushri--Ajaran tentang kebijaksanaan pandangan-mendalam; silsilah Maitreya--Ajaran tentang filosofi dan shamatha; dan silsilah Tilopa--Ajaran tentang konsentrasi, juga dikenal sebagai samadhi tantra. Ajaran Vajrayana yang awalnya diajarkan Buddha Vajradhara adalah kesatuan dari ketiga silsilah ini. Dalam konteks ajaran Vajrayana, Buddha Vajradhara sekaligus sedang membabarkan Dharma dalam tiga dimensi waktu dari masa lampau, sekarang dan akan datang. Guru Padmasambhava, secara umum dianggap sebagai Buddha kedua, muncul di Bhutan 1200 tahun yang lalu dan menyebarkan Ajaran Buddha, terutama Ajaran Tantra, di seluruh pelosok Bhutan.
Pengajaran-Nya diteruskan kepada Tsangpa Jare dan kemudian kepada Pema Karpo, seorang cendekiawan Drukpa. Tsangpa Jare membentuk silsilah Drukpa Kagyud 843 tahun yang lalu. Ketika beliau mendirikan sebuah biara besar, sembilan naga muncul dari bumi, mengelilingi sekujur tubuh-Nya dan menjulang di atas kepala-Nya. "Druk" artinya naga dalam bahasa Bhutan, oleh karena itu, silsilah tersebut kemudian dinamakan Drukpa Kagyud.
Selanjutnya, 477 tahun yang lalu, Shabdrung Ngawang Namgyel, pemimpin Buddhis tertinggi, menjadikan Bhutan sebagai negara serikat Buddhis yang mandiri. Shabdrung berarti "bernamaskara di depan kaki". Shabdrung adalah reinkarnasi dari Pema Karpo, yang diri-Nya sendiri merupakan reinkarnasi dari Guru Padmasambhava, Chenrezig dan Amitabha (tubuh, ucapan, dan pikiran). Beliau secara langsung menerima Ajaran dari ketiga kaya tertinggi ini. "Pema" artinya "teratai" dan merujuk kepada Guru Padmasambhava. "Karpo" artinya "putih" dan merujuk kepada Chenrezig. Karena itu, silsilah non-dual dari Nyongma (aliran merah) dan Drukpa Kagyud (aliran putih) pun terbentuk. Demi menyempurnakan pertanda kebajikan, "Kagyud" selanjutnya diganti menjadi "Kargyud", mengemban nama pendirinya, Pema Karpo.
Kerajaan tersebut diberi nama resmi sebagai Palden Drukpa Chogle Namgyel, artinya "pemegang silsilah naga jaya nan gung dari sepuluh penjuru". Makna dari "Palden" adalah "agung"; "Drukpa" adalah "pemegang silsilah naga"; "Chogle" adalah "sepuluh penjuru" dan "Namgyel" adalah "selalu berjaya".
Tokoh-tokoh utama negara disebut sebagai para drukpa. Agama resmi negara dinamakan Palden Drukpa Kargyud, artinya "silsilah naga agung". Bhiksu-bhiksuni Bhutan, para pelatih yoga pria maupun wanita, dan umat awam merupakan pemegang silsilah ini. Kehangatan dan berkah dari Ajaran masih dirasakan semua orang karena silsilah ini masih belum lama diwariskan.
Negara Bhutan 70% merupakan hutan dan penduduknya bermatapencarian melalui usaha pertanian. Untuk melestarikan agama tradisi dan kebudayaan, negara ini telah menutup diri cukup lama. Pada Juli 2002, Menjong Chothun Tshogpa (MCT) suatu organisasi non-profit dibentuk untuk melestarikan vihara, biara dan lingkungan alam; memastikan kebutuhan para bhiksu-bhiksuni terurus; dan menjamin kesinambungan dari Tradisi Buddha Dharma suci demi kebaikan para generasi mendatang. His Eminence Trizin Tsering Rinpoche ditunjuk sebagai ketua MCT oleh His Holiness Trulku Jigme Choda Rinpoche ke-70 Je Khenpo Tertinggi dari Bhutan pada Juni 2003.
|